Unissula Lepas 1.546 Mahasiswa KKN Periode XXII Tahun 2026, Perkuat Sinergi dengan Pemerintah Membangun Jawa Tengah Berkelanjutan

Berita60 Views

Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) secara resmi melepas 1.546 mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Periode XXII Tahun 2026 pada Selasa (28/7/2026) bertempat di Biro Rektor Unissula.  KKN akan berlangsung 28 Juli hingga 13 Agustus 2026. Para mahasiswa akan mengabdi di masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan di Kecamatan Genuk, Pedurungan, dan Gayamsari, Kota Semarang.

Hadir para pimpinan Unissula. Mereka adalah Acara Wakil Rektor I Unissula Dr Mochamad Abdul Basir SPd MPd. Wakil Rektor II Dr Dedi Rusdi SE MSi Ak CA CRP.  Wakil Rektor III Dr Achmad Arifulloh SH MH.

Hadir pula para pimpinan LPPM Unissula antara lain Prof Dr Imam Kusmaryono SPd MPd, Prof Dr Widayati SH MHum, dan Abdurrohim SPsi MPsi. Camat Genuk, Camat Pedurungan, Camat Gayamsari dan para lurah dari wilayah ketiga kecamatan yang menjadi lokasi pelaksanaan KKN juga hadir secara daring melalui Zoom.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor I Unissula Abdul Basir menegaskan bahwa KKN merupakan momentum bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu yang telah dipelajari di bangku kuliah sekaligus belajar langsung dari kehidupan masyarakat.

“Hari ini merupakan momentum ketika ilmu yang saudara pelajari di ruang kuliah mulai diuji dalam kehidupan nyata. Di tengah masyarakat itulah saudara akan belajar bahwa masyarakat adalah laboratorium kehidupan yang sesungguhnya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, KKN Periode XXII Tahun 2026 mengusung tema sinergitas perguruan tinggi dan pemerintah dalam mewujudkan Jawa Tengah sebagai provinsi maju dan berkelanjutan. Menurutnya, tema tersebut menjadi panggilan bagi perguruan tinggi untuk mengambil bagian dalam pembangunan daerah melalui kolaborasi dengan pemerintah.

“Perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi tempat lahirnya ilmu pengetahuan, tetapi juga harus menjadi sumber solusi atas berbagai persoalan masyarakat. Ketika pemerintah menghadirkan kebijakan, perguruan tinggi harus hadir melalui inovasi, pendampingan, dan pemberdayaan. Dari sinergi inilah akan lahir perubahan yang nyata,” katanya.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa mahasiswa hendaknya tidak memandang KKN sekadar sebagai kewajiban akademik untuk memenuhi tiga satuan kredit semester. Sebaliknya, KKN merupakan kehormatan karena memberikan kesempatan kepada mahasiswa hadir langsung di tengah masyarakat, mendengarkan aspirasi mereka, memahami kebutuhannya, dan menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi.

Ia juga berpesan agar mahasiswa datang dengan kerendahan hati, lebih banyak mendengar daripada berbicara, serta lebih banyak belajar daripada merasa mengajar. Menurutnya, masyarakat memiliki pengalaman dan kearifan lokal yang sangat berharga sehingga mahasiswa perlu menghargai sekaligus memperkuat potensi yang telah dimiliki masyarakat.

Dirinya juga memaparkan bahwa keberhasilan KKN tidak diukur dari banyaknya dokumentasi kegiatan, spanduk yang dipasang, maupun tebalnya laporan yang disusun. Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika kehadiran mahasiswa mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Jika ada anak yang menjadi lebih semangat belajar karena pendampingan mahasiswa, jika pelaku UMKM mulai memahami cara mengembangkan usahanya, jika lingkungan menjadi lebih bersih, masyarakat semakin sadar pentingnya kesehatan, atau perangkat kelurahan terbantu melalui inovasi mahasiswa, itulah keberhasilan KKN yang sesungguhnya,” tegasnya.

Sebagai mahasiswa Unissula, lanjutnya, para peserta KKN membawa identitas sebagai insan khaira ummah. Identitas tersebut harus tercermin dalam kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, kepedulian, kemampuan bekerja sama, serta menjaga adab dalam setiap tindakan selama berada di tengah masyarakat.

Ia berharap setiap kelompok KKN mampu meninggalkan program yang berkelanjutan meskipun masa pengabdian hanya berlangsung sekitar dua minggu.

“Masyarakat mungkin akan melupakan nama kita, tetapi mereka tidak akan pernah melupakan kebaikan yang pernah kita lakukan. Karena itu, pastikan setiap langkah selama KKN menjadi jejak pengabdian yang diniatkan sebagai ibadah,” pesannya.

Pada kesempatan tersebut, Wakil Rektor I juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh dosen pembimbing lapangan yang akan mendampingi mahasiswa selama pelaksanaan KKN. Ia berharap bimbingan para dosen menjadi bekal berharga sehingga seluruh program pengabdian berjalan lancar, aman, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Pelepasan KKN ditandai dengan pelepasan ratusan burung perkutut. Burung perkutut memiliki makna filosofis yang sangat kaya dan dapat dijadikan simbol yang relevan bagi mahasiswa KKN. Dalam budaya Jawa, perkutut tidak hanya dikenal sebagai burung berkicau, tetapi juga melambangkan kebijaksanaan, ketenteraman, kesabaran, dan keberkahan. Nilai-nilai tersebut selaras dengan semangat pengabdian mahasiswa di tengah masyarakat.