Taj Yasin Maimoen Raih Budai Award 2026, Berikut Empat Alasan yang Mendasarinya

Berita1221 Views

Unissula menganugerahkan Budai Award kepada Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen. Penganugerahan diberikan dihadapan ratusan pejabat struktural Unissula di kampus Kaligawe KM 4 Semarang Senin (24/8/2026).

Dalam sambutannya Rektor Unissula Prof Dr Gunarto SH MH menyampaikan bahwa di tengah dunia yang sedang mengalami krisis figur kepemimpinan, Universitas Islam Sultan Agung terus berdiri tegak membawa misi sejarah yaitu membangun generasi khaira ummah.

Ia meyakini bahwa karakter unggul tidak sekedar diajarkan di dalam ruang ruang perkuliahan. Karakter juga lahir dari contoh nyata. Melalui Budaya Akademik Islami (Budai), birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua), dan takrimul aulad (memuliakan anak), Unissula tidak hanya sedang mentransfer ilmu pengetahuan. Namun juga membentuk karakter dan merawat peradaban.

Menurutnya Unissula tidak sedang membuat tradisi baru. Namun sedang melanjutkan mata rantai keteladanan yang telah dianyam oleh para tokoh besar bangsa.

Nama-nama seperti Buya Hamka, KH Zarkasi, HM Jusuf Kalla, Prof Mahfud MD, Prof Mohammad Nuh, Prof Imam Suprayogo, Dr dr Rofiq Anwar SpPA, KH Ali Mufiz MPA, Dr KH Ahmad Darodji, Prof Dr KH Abdul Djamil hingga ulama karismatik Al Maghfurlah KH Maimoen Zubair, adalah deretan nama yang telah mengukir jejak emas penerima BUDAI Award.

“Hari ini sebuah momen sejarah yang sangat indah mata rantai keteladanan itu kembali berlanjut. Mewujud secara nyata dalam gerak langkah KH Maimoen Zubair kepada sang putra KH Taj Yasin Maimoen,” ujarnya.

Mengapa Taj Yasin sangat layak menerima Budai Award? Setidaknya ada empat hal yang mendasarinya. Pertama, keteladanan birrul walidain dan takrimul aulad yang nyata. “Beliau adalah seorang putra yang sangat taat dan patuh kepada kedua orang tuanya. Beliau juga menunjukkan kepatuhan dan komitmen luar biasa dalam meneruskan perjuangan ayahandanya dalam merawat umat dan bangsa,” ungkapnya.

Hingga kini Taj yasin senantiasa memegang teguh tiga wasiat yang disampaikan ayahandanya sebelum wafat. Yaitu wasiat menjaga pesantren, menjaga negara, dan menjaga pemerintahan melalui kerja-kerja nyata.

Nilai takrimul aulad tercermin dari kebijakan beliau mengusahakan beasiswa pendidikan tinggi di dalam dan luar negeri bagi para santri. Nilai takrimul aulad juga mewujud dalam mendidik dan mengajar para santrinya dengan penuh kasih sayang.

Kedua, integrasi harmonis antara sains dan nilai nilai Islam. “Sejak kecil beliau mengecap pendidikan pesantren dan sekolah umum, lalu mengepakkan sayap intelektualnya hingga ke Universitas Bilad Al Sham, Damaskus. Beliau membuktikan bahwa pemuda muslim mampu berwawasan global tanpa kehilangan akar tradisi keislamannya,” lanjutnya.

Ketiga, kepemimpinan Muda yang Teruji. Taj Yasin menjadi pemimpin Gerakan Pemuda Ansor. Menjadi anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah di usia 31 tahun. Menjadi Wakil Gubernur Jawa Tengah pada usia 35 tahun.

Keempat, berkontribusi bagi masyarakat dan umat. “Karya nyata beliau hadir menyentuh akar rumput melalui percepatan sertifikasi halal untuk berbagai produk UMKM. Menginisiasi dan mengawal insentif bagi puluhan ribu guru keagamaan dan tenaga pendidik nonformal di Jawa Tengah. Menggerakkan ekonomi pesantren. Mengoptimalkan zakat ASN menjadi rumah sehat dan pemukiman layak bagi warga miskin,” terangnya.

Atas dasar rekam jejak dan keteladanan tersebut, Unissula dengan penuh rasa bangga, takzim, dan hormat menganugerahkan BUDAI Award 1448 H / tahun 2026 kategori tokoh pemimpin muda inspiratif kepada Taj Yasin Maimoen.

“Kepada KH Taj Yasin Maimoen, kami mengucapkan selamat dan terima kasih atas segala dedikasi dan inspirasi yang telah ditularkan kepada bangsa ini, khususnya kami masyarakat Jawa Tengah. Semoga penganugerahan ini melipatgandakan keberkahan, kesehatan, serta petunjuk dari Allah SWT dalam setiap langkah pengabdian. Teruslah menjadi peneduh umat, teruslah menjadi jembatan toleransi, dan teruslah menginspirasi generasi muda Indonesia,” pungkas Prof Gunarto.

Sementara itu Taj Yasin menegaskan bahwa penghargaan BUDAI Award bukan sekadar capaian pribadi. Menurutnya, penghargaan itu merupakan hasil sinergi dan dukungan banyak pihak. “Di belakang saya banyak orang yang mendampingi saya, salah satunya adalah istri saya,” ujar Taj Yasin saat menerima penghargaan di Kampus Unissula.

Taj Yasin juga menyampaikan terima kasih kepada Unissula. Ia menilai Unissula konsisten memberikan apresiasi kepada tokoh yang menghadirkan keteladanan bagi masyarakat.

Menurutnya, BUDAI Award menjadi pengingat untuk terus melanjutkan pembangunan masyarakat dan keagamaan di Jawa Tengah. Fondasi tersebut, kata dia, telah diletakkan oleh para tokoh terdahulu.

Taj Yasin juga menekankan pentingnya pendidikan karakter dan nilai-nilai keagamaan. Keduanya perlu berjalan seiring dengan penguatan kemampuan intelektual.

 

Menurutnya, ilmu pengetahuan harus diarahkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Nilai rahmatam lil alamin  juga harus menjadi landasan dalam membangun kehidupan bersama.

Prinsip tersebut, lanjutnya, penting untuk memastikan pembangunan dapat dirasakan semua lapisan masyarakat. Tidak boleh ada kelompok yang merasa ditinggalkan. “Rahmatan lil alamin harus menjadi fondasi utama dalam merangkul semua lapisan masyarakat tanpa terkecuali,” tegasnya.