Unissula Gandeng KLH dan ICMI Jateng Kembangkan Living Laboratory Bahurekso untuk Selamatkan Pantura Jawa

Berita, Nasional144 Views

Unissula memperkuat kolaborasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Republik Indonesia dan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah Jawa Tengah dalam pengembangan Living Laboratory Bahurekso. Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui dialog dan pembahasan Proposal Bahurekso di Kampus Unissula, Kamis (2/7/2026).

Pertemuan ini menjadi tindak lanjut kunjungan Menteri Lingkungan Hidup ke Unissula beberapa waktu lalu. Forum tersebut sekaligus menjadi langkah awal menyinergikan pemerintah, perguruan tinggi, organisasi cendekiawan, dunia usaha, dan masyarakat dalam membangun model perlindungan kawasan pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa yang berkelanjutan.

Hadir dalam kegiatan tersebut Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Perairan Darat Puji Iswari SHut MSi, Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup Pupun Purwana, Koordinator Pokja Mangrove Sandi Prasetyo ST MSi, serta jajaran Direktorat Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Perairan Darat, termasuk Ardan Sianturi SH dari Program Mangrove for Coastal Resilience (M4CR).

Dari Unissula hadir Wakil Rektor I Dr Muhammad Abdul Basir SPd MPd, Wakil Rektor II Dr Dedi Rusdi SE MSi Ak CA CRP, dan Wakil Rektor III Dr Achmad Arifulloh SH MH. Hadir pula Kepala LPPM Unissula Prof Dr Ir Henny Pratiwi Adi ST MT IPU, Prof Dr Ir Slamet Imam Wahyudi DEA, para dosen, peneliti, serta akademisi. Turut hadir Prof Dr Denny Nugroho Sugianto ST MSi, pakar oseanografi dari Universitas Diponegoro.

ICMI Orwil Jawa Tengah diwakili Sekretaris Umumnya, Ir H Fery Firmawan ST MT PhD IPU, yang juga menjabat Kepala Pimpinan Eksekutif Living Laboratory Bahurekso. Ia hadir bersama tim penyusun proposal yang terdiri atas Ari Sentani ST MSc MPM, Febi Kumara Adi ST BSc, Yuli Arinta Dewi SP MSi, Lala Anggraini ST MT, dan Amelia Agustin ST.

Membuka dialog, Dr Achmad Arifulloh menyampaikan apresiasi atas kehadiran jajaran KLH di Kampus Unissula. Menurutnya, pembahasan proposal Bahurekso bukan sekadar membahas dokumen, tetapi menjadi forum strategis untuk menyatukan gagasan, pengalaman, dan komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga keberlanjutan kawasan Pantura.

Ia menegaskan bahwa keterlibatan Unissula merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Perguruan tinggi, katanya, harus mampu menghadirkan solusi atas persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

“Menjaga lingkungan bukan hanya persoalan teknis maupun ekonomi, tetapi juga tanggung jawab kemanusiaan dan amanah keagamaan. Karena itu, kolaborasi menjadi kunci keberhasilan program,” ujarnya.

Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup Pupun Purwana menjelaskan bahwa kunjungan tim KLH merupakan tindak lanjut arahan Menteri Lingkungan Hidup setelah menerima proposal Bahurekso dari Unissula. Menurutnya, pemerintah melihat Bahurekso sebagai inisiatif yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui kolaborasi lintas sektor.

Sementara itu, Puji Iswari mengatakan konsep Bahurekso sejalan dengan arah kebijakan nasional dalam perlindungan dan pengelolaan ekosistem mangrove sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2025. Pendekatan yang dibangun tidak hanya berfokus pada penanaman mangrove, tetapi juga mencakup perlindungan, perencanaan, pengelolaan, pemanfaatan, pengendalian, hingga penegakan tata kelola ekosistem secara berkelanjutan.

Ia juga mengajak Unissula berkolaborasi dalam penyusunan regulasi turunan dari PP Nomor 27 Tahun 2025. Menurutnya, kontribusi akademisi sangat dibutuhkan untuk memperkuat kebijakan pemerintah berbasis kajian ilmiah.

Pada kesempatan itu, Ir H Fery Firmawan menjelaskan bahwa gagasan Bahurekso lahir dari kepedulian terhadap kondisi pesisir Pantura yang terus mengalami rob, abrasi, dan penurunan muka tanah. Nama Bahurekso diambil dari Tumenggung Bahurekso, panglima Mataram yang dipercaya Sultan Agung menjaga kawasan Pantura. Semangat tersebut kini diwujudkan melalui pendekatan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kolaborasi multipihak.

Living Laboratory Bahurekso dirancang sebagai model pengelolaan pesisir terpadu. Program ini memadukan rekayasa struktur pantai, rehabilitasi mangrove, silvofishery, penguatan ekonomi masyarakat, pemanfaatan teknologi Internet of Things (IoT), serta penguatan kelembagaan.

Paparan teknis disampaikan oleh Febi Kumara Adi bersama Ari Sentani. Tim menjelaskan bahwa kawasan pengembangan berada di pesisir Kabupaten Demak sepanjang sekitar 15 kilometer, mulai Kecamatan Sayung hingga Bonang. Wilayah tersebut dipilih karena menjadi salah satu kawasan yang paling terdampak rob, abrasi, dan penurunan muka tanah di Pantura Jawa.

Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai masukan dari akademisi, peneliti, dan jajaran KLH. Seluruh peserta sepakat bahwa perlindungan kawasan pesisir tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi jangka panjang yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Melalui sinergi tersebut, Living Laboratory Bahurekso diharapkan menjadi model nasional pengelolaan kawasan pesisir yang adaptif, berbasis ilmu pengetahuan, serta mampu memperkuat ketahanan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *