FK Unissula Sumpah 40 Dokter Baru, Perkuat Langkah Menuju Standar Pendidikan Internasional

Berita1543 Views

Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung (FK Unissula) kembali menggelar Sumpah Dokter ke-136 pada Sabtu (15/8/2026). Sebanyak 40 dokter baru mengikuti prosesi sumpah dokter yang berlangsung di lingkungan FK Unissula.

Rektor Unissula Prof Dr Gunarto SH MH menyampaikan selamat kepada 40 dokter baru dan keluarga. Menurutnya, keberhasilan para dokter menyelesaikan pendidikan tidak lepas dari peran dan perjuangan orang tua.

“Orang tua telah mendidik dan membesarkan anak-anaknya hingga mampu menjadi dokter. Karena itu, hari ini bukan hanya kebahagiaan bagi para dokter baru, tetapi juga kebahagiaan dan kebanggaan bagi orang tua,” ungkapnya.

Rektor juga memberikan apresiasi kepada FK Unissula yang terus berupaya membangun tata kelola fakultas dengan baik. Tata kelola tersebut dinilai penting karena memungkinkan FK Unissula menjalankan proses pendidikan hingga pelaksanaan sumpah dokter secara konsisten.

Ia juga mengapresiasi capaian akademik FK Unissula. Menurutnya, capaian nilai pendidikan kedokteran FK Unissula menunjukkan hasil yang baik dibandingkan sejumlah fakultas kedokteran lainnya. Demikian pula dengan hasil Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter yang secara konsisten memperoleh predikat baik dengan capaian hingga sekitar 80 persen.

“Ini harus dipertahankan dan terus ditingkatkan. Jangan cepat puas dengan capaian yang sudah ada,” pesannya.

Prof Dr Gunarto juga mendorong para dokter baru untuk terus mengembangkan keilmuan. Pendidikan kedokteran, menurutnya, tidak berhenti setelah memperoleh gelar dokter.

“Lanjutkan jenjang keilmuan. Bisa melalui pendidikan maupun pendidikan spesialis. Terus belajar karena ilmu kedokteran terus berkembang,” katanya.

Lebih lanjut, Rektor menyampaikan bahwa Unissula saat ini sedang menjalankan proses akreditasi internasional melalui  ACQUIN (Accreditation, Certification and Quality Assurance Institute). ACQUIN adalah lembaga akreditasi penjaminan mutu independen asal Jerman yang berdiri sejak 2001.

Akreditasi internasional akan dilakukan untuk program S1, S2, dan S3. Ia berharap proses tersebut dapat menghasilkan predikat terbaik sehingga pada tahun-tahun mendatang FK Unissula semakin memiliki standar pendidikan berkelas internasional.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor juga mengingatkan tantangan dunia kesehatan Indonesia. Pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi belum sepenuhnya diimbangi dengan pertumbuhan jumlah dokter. Persoalan lain adalah distribusi dokter yang masih terkonsentrasi di wilayah Jawa.

Karena itu, ia mengajak para dokter baru untuk tidak hanya berorientasi mengabdi di Jawa.

“Saya mengajak para orang tua dan para dokter baru untuk berjuang di luar Jawa. Masih banyak masyarakat di Sumatra, Kalimantan dan wilayah lainnya yang membutuhkan tenaga dokter,” tuturnya.

Menurutnya, kehadiran dokter di berbagai wilayah Indonesia merupakan bagian dari kontribusi nyata untuk menjawab persoalan pemerataan pelayanan kesehatan nasional.

Ia pun mendoakan agar para dokter baru senantiasa menjadi pribadi yang beriman, berbuat baik kepada orang tua, masyarakat dan bangsa. Dengan bekal tersebut, para dokter diharapkan mendapatkan keberkahan dan kelimpahan rezeki dalam menjalankan profesinya.

“Jangan pernah berhenti berbuat baik. Jadikan ilmu yang diperoleh sebagai jalan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat,” pesannya.

Dekan FK Unissula Dr dr Eko Setiawan Sp(B) mengatakan pelaksanaan sumpah dokter merupakan momentum penting bagi para dokter baru untuk memulai perjalanan profesionalnya.

Ia mengungkapkan, FK Unissula terus mendapatkan dorongan dari Rektor agar tidak berada di zona nyaman. Dorongan tersebut menjadi energi bagi fakultas untuk terus menghadirkan berbagai pengembangan baru.

“Bapak Rektor selalu mendorong FK Unissula agar tidak berada di zona nyaman. Karena itu, FK Unissula harus selalu memiliki sesuatu yang baru dan terus berkembang,” ujarnya.

Menurutnya, FK Unissula saat ini juga terus mengembangkan pendidikan dokter spesialis. Pendidikan spesialis penyakit dalam telah tersedia dan akan terus dikembangkan dengan penambahan program spesialis lainnya, termasuk bedah.

Selain itu, Unissula juga telah memiliki International Unit Program sebagai bagian dari upaya memperkuat wawasan dan jejaring internasional.

“Harapan kami ke depan FK Unissula menjadi semakin baik dan mampu menjawab berbagai tantangan kesehatan yang akan datang,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dr Zulfachmi Wahab SpKHOM-FINASIM menyampaikan selamat kepada 40 dokter baru serta FK Unissula yang telah melaksanakan Sumpah Dokter ke-136.

Ia menegaskan bahwa pendidikan kedokteran bukanlah pendidikan yang bersifat eksklusif. Siapa pun memiliki kesempatan untuk menjadi dokter selama memiliki kemampuan dan kemauan untuk belajar.

“Pendidikan dokter bukan sesuatu yang elit. Pendidikan kedokteran terbuka untuk semua kalangan. Tidak harus orang tuanya dokter terlebih dahulu untuk menjadi seorang dokter,” katanya.

Menurutnya, sumpah dokter bukanlah akhir dari perjalanan pendidikan. Sebaliknya, sumpah tersebut merupakan awal dari perjalanan panjang dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Ia berpesan agar para dokter baru terus belajar dan menjadi dokter yang kompeten. Selain kompetensi, integritas, etika dan moral harus selalu dijunjung tinggi.

“Jadilah dokter yang kompeten dan terus belajar. Jadilah dokter yang berintegritas. Etika dan moral harus dijunjung tinggi. Jangan pernah kehilangan empati,” pesannya.

Ia juga meminta para dokter baru untuk siap mengabdi di mana saja. Para dokter diharapkan menjadi bagian dari transformasi kesehatan nasional dan mengambil peran aktif dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.

Selain itu, ia mengingatkan pentingnya membangun kasih sayang, kebersamaan dan kesetiakawanan. Hubungan yang baik perlu dibangun dengan sesama sejawat, almamater dan masyarakat.

Kepada FK Unissula, ia mendorong agar pendidikan kedokteran terus dikembangkan dengan memperkuat keseimbangan antara pendidikan berbasis rumah sakit dan pendidikan berbasis universitas.

“Fakultas kedokteran harus berbasis kompetensi agar lulusannya benar-benar siap bekerja,” jelasnya.

Ia juga mendorong FK Unissula untuk mengembangkan pendidikan yang berbasis pada kebutuhan pasien serta menerapkan pembelajaran berkelanjutan. Pengembangan ilmu juga perlu disertai dengan penguatan kolaborasi antarprofesi.

Menurutnya, interprofessional education menjadi penting agar mahasiswa kedokteran terbiasa berinteraksi dan bekerja sama dengan dokter, perawat serta tenaga kesehatan lainnya.

“Dengan demikian, lulusan yang dihasilkan benar-benar siap pakai dan mampu bekerja dalam tim,” katanya.

Ia kemudian membagikan tiga prinsip yang dapat menjadi bekal para dokter baru dalam membangun karier. Pertama, selalu memberikan yang terbaik kepada atasan. Kedua, membangun kebersamaan dengan sesama sejawat dengan semangat together we can. Ketiga, kepada mereka yang berada di bawah atau bekerja bersama, selalu menjunjung tinggi empati.

“Kalau tiga hal ini dijalankan dengan baik, insyaallah akan menjadi bekal untuk menjadi dokter yang sukses,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *